Pelajaran penting saya dapatkan di hari Jum’at ini. Pak ustadz menerangkan sebuah hadis yang sebenarnya sudah begitu akrab di telinga umat Islam. Sayangnya, selama ini saya rada bolot untuk meresapi makna sebenarnya dari hadis tersebut, yang berbunyi : “Apabila mati anak Adam, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak lelaki yang shaleh yang mendoakannya.”
Dalam perjalanan pulang, saya pun berkhayal. Andai saya bisa membangun masjid, lalu mesjid itu makmur karena banyak orang yang shalat di sana, wah… lumayan yah, buat ngurangin beban dosa. Ah, jangan muluk2 dulu deh. Dari shadaqoh pun peluang investasi terbuka lebar. Coba kita bayangkan, ketika bershadaqoh, kita tak menyadari, secara tidak langsung kita “mengubah” nasib si penerima yang sedang kelaparan, misalnya. Walau pun perubahan nasibnya itu melewati proses yang panjang. Tapi seperti kata pak ustadz bilang, selama amalan itu memberikan faedah bagi si penerima, maka amalan tersebut tak putus. Dari pemberian itu, ia bisa makan, lalu ia melanjutkan perjalanan, terus mendapatkan pekerjaan misalnya, dan bila Allah berkehendak ia bisa menjadi orang sukses dan menyebarkan banyak faedah pula. Tuh, lumayan kan, kita juga nanti kecipratan untung dari orang itu, walau pun kita sudah mati.
Nah, yang terakhir adalah do’a anak lelaki yang shaleh. Ngehayal lagi deh… klo punya anak nanti, apalagi anaknya laki, sudah menjadi kewajiban bagi saya untuk sebisa mungkin membentuk akhlaknya yang baik, agar nantinya menjadi anak yang shaleh dan membawa kebaikan bagi lingkungan sekitarnya. Terlebih lagi bila saya meninggal duluan, do’anya akan menolong saya.
Kapan terakhir kita bershadaqoh jariyah?
Sudahkah kita memberikan ilmu yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar kita, walaupun hanya dengan sepatah atau dua patah kata?
Apakah kita sudah menjadi anak yang shaleh bagi orang tua kita? Bagaimana kita membentuk akhlak yang baik bagi anak kita nanti, sedangkan kita sendiri tak berusaha membuang akhlak buruk?
Ah, memang sulit untuk mencapai akhlak yang sempurna seperti Rosulullah SAW. Tapi yang terpenting kita memiliki niat yang kuat untuk berakhlak baik. Hehe.. tapi tetep aja susah ya?
Klo gitu, gimana klo kita mulai berinvestasi dari sekarang? Untungnya kan lumayan, dan jauh lebih besar di banding investasi di dunia. mumpung masih hidup dan sehat, tunggu apalagi? Yuuuu….
Wassalam!!
0 komentar:
Post a Comment