“Woi!! Woi!!” teriakan-teriakan itu terdengar dari orang-orang di pinggir jalan. Mungkin teriakan itu pula yang menyadarkan supir kijang itu untuk segera mengerem mobilnya. Dalam sekejap
Pria berkaca mata minus itu turun dari mobilnya dengan wajah pucat dan tegang. Ketegangannya itu melenyapkan aura sangar dari sosok badannya yang besar dan tegap. Mungkin ia tegang karena om polisi sudah nongkrong dihadapannya. Ah, yang jelas, bisa saja dia pucat karena mungkin sudah terbayang berapa ongkos yang harus dikeluarkannya hari itu.
Yang saya heran, saat itu urat marah saya seperti kendor. Ga ada hasrat sedikit pun untuk sekedar mencak-mencak. Kebayang
Pikiran saya justru melayang ke langit. Saya ingin menyampaikan pesan kepada Tuhan, bahwa saya sudah bisa menerima ujian-ujian itu. Dan saya pun dengan lapang menerima musibah ini. Seperti sebuah klimaks. Saya tak lagi menggerutu apalagi protes. saya benar-benar pasrah. Jadi buat apa saya marah-marah lagi kepada supir kijang itu. Toh, ini sudah kehendakNya.
“Sok, ini urusannya mau gimana, mau kekeluargaan atau sidang? Coba keluarkan SIM dan STNK kalian,” pinta pak polisi. Walah, lagi kesakitan begini?!! Saya yang masih shock mencoba merogoh setiap saku. Belum sempat mengeluarkan surat-surat, saya keburu digiring oleh seseorang. “udah, yang ini mah bawa aja dulu ke klinik, lukanya harus cepet dirawat.” Kebetulan klinik tersebut tepat berada di TKP. Akhirnya hanya si penabrak saja yang berurusan dengan polisi.
Mendengar kata-kata dokter, si penabrak pun menghampiri. “Ini KTP saya, kalo nanti ada apa-apa, hubungi saja.” Yeach, memang sudah seharusnya seperti itu bos. Saya pun menghargai itikad baiknya. Tapi ketika itu, saya merasa luka seperti ini biasa saja. Saya yakin dalam waktu seminggu pun sudah sembuh lagi. “Sudahlah kang, ngga apa-apa,” timpal saya. yeach.. terkesan bijak yah. saya memang menolaknya. Lagian saya pikir dia sudah cukup bertanggungjawab mengeluarkan uang untuk pembiayaan klinik. Dan mungkin.. buat ongkos “sidang”. Saya pun sudah cukup senang melihat keadaan si belalang yang ternyata tak “terluka” parah. Hanya step kiri saja yang bengkok.
Hari selanjutnya, kondisi kaki saya malah membengkak. Untuk melangkah beberapa meter saja linunya minta ampun. Ternyata, setelah diperhatikan lebih seksama, memang ada yang gak beres. Tempurung lutut saya bergeser ke atas! Barulah saya memaksakan pergi ke bengkel tulang di kawasan Ujungberung. Disamping itu, saya pun memeriksakan diri ke rumah sakit untuk mengobati luka-lukanya yang ternyata infeksi.
Akhirnya saya harus turus mesin, dan kembali menyusahkan orang tua. Tak bisa melakukan aktifitas benar-benar serasa menjadi orang yang tak berguna. Ditambah lagi pergelangan tangan kiri saya pun terkilir, sehingga agak susah untuk sekedar memainkan gitar. Perfect days!
Satu-satu, sohib-sohib terbaik saya berdatangan. Demikian pula dengan para penagih hutang yang datang tak tepat waktu. Yeach, paling tidak mereka pun masih punya perhatian sama saya hehe..
Dengan kondisi seperti itu, tak banyak yang bisa saya lakukan di ranjang selain membaca. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, saya menggunakan tongkat penyangga (eh apa sih namanya yah?) untuk berjalan.
Kini, mimpi buruk sudah berlalu. berbagai agenda yang tertunda sudah terlalu lama menunggu. Saya bangkit walau harus kembali dari nol. Tapi saya malah tambah bersemangat karena telah menangkap hikmah di balik musibah yang saya alami. Apa pun itu, tentu Tuhan lah yang maha tahu. Dia maha tahu apa yang terbaik buat hambaNya.
Saya sadar, saya tak boleh lagi berprasangka buruk terhadap rencana Tuhan.
Kini saya yakin, di balik musibah itu, Tuhan sudah menyiapkan hadiah yang manis buat saya di lain waktu. Amiiin…
0 komentar:
Post a Comment