Sunday, September 27, 2009

Status kejiwaan seorang koordinator dalam kegiatan reuni

Leave a Comment



-->
Reuni reuni dan reuni. Ya, belakangan ini acara reuni sedang menjadi top agenda utama diantara top songs, tank top, nurdin m top atau top-top lainnya. Paling tidak semenjak kehadiran facebook, acara reunian dari berbagai alumni tingkat sekolah menjadi penyakit jamur.. maksutnya makin menjamur.. ya ya sama saja lah... Oke, terlepas dari berbagai dampak buruknya, bolehlah kita berterima kasih kepada situs jejaring ini dalam hal penyambung silaturahmi. Tengok saja, dengan fesbuk, teman2 jadul makin mudah untuk dideteksi (bagi yang eksis tentunya). kondisi inilah yg membuat banyak orang berantusias untuk merajut kembali benang cinta.. ups.. sori.. benang silaturahmi yang bertahun2 sempat terputus. apalagi sekarang berkenaan dengan bulan puasa, bulan penuh rahmat dan ampunan. Maka agenda buka bersama pun menjadi momen pas untuk reunian.
Momen bulan ramadhan ini pun tak disia-siakan oleh tim kecil dadakan berisi orang-orang bersemangat 45 untuk segera menghadirkan wajah-wajah lama ke permukaan. Dan Alhamdulillah, saya pun harus terlibat di dalamnya untuk turut melakukan perburuan orang-orang hilang. Perburuan dimulai dari fesbuk, no.hp yang ada, buku almamater yang menyesatkan, hingga lewat kopi darat yang berliku. Pencarian darat dilakukan sehubungan orang-orang yang dicari benar-benar sudah lost contact.

Nah, setelah data orang-orang terkumpul, disebarlah undangan silaturahmi melalui fesbuk dan sms, atau langsung ditodong ditelpon. Bila perlu langsung ditodong ke rumahnya. Tapi sayangnya, bara semangat silaturahmi itu tidak dimiliki semua teman. Kenapa bisa begitu? Coba tanyakan saja pada rumput yang bergoyang.. dijamin.. kamu harus segera cek kejiwaan.. ngobrol ko sama rumput hihihi…

Mahalnya sebuah konfirmasi
Dalam bidang apapun yang namanya konfirmasi adalah segala-segalanya, tak terkecuali dalam penyelenggaraan reuni. Dulu saya beranggapan, dengan adanya fesbuk acara reuni bisa terwujud dengan mudah. Ternyata pada pelaksanaanya lumayan memble. banyak faktor dan alasan yang membuat orang tidak antusias. Mending kalo orangnya ngasih berita. Lha ini, ga ada respon sama sekali. Berabe deh. kalo sudah begini, konfirmasi itu memang semahal emas, jendral. Ya, bukankah diam itu emas?

Beberapa bulan lalu, seorang ketua penyelenggara reuni mencak-mencak di sebuah milis alumni karena minimnya respon dari teman-teman lainnya. Yeach, intinya, beliau ini cuma minta konfirmasi iya atau tidak / mau atau ngga. melihat kondisi itu, tanpa dikomando saya berinisiatif untuk sok sibuk mengkordinir, tapi hasilnya ngga terlalu signifikan. parahnya, tak sedikit peserta yang batal hadir tanpa konfirmasi. walhasil, reuni hanya diisi segelintir orang saja. kasihan yang jadi tuan rumah, makanan pun banyak tersisa. ini salah satu contoh dari mahalnya konfirmasi. intinya kan, mau datang atau tidak. Hmm.. apa mau dikata. 

Contoh lainnya. seorang teman seperjuangan mengirimkan unek2 ke inbox saya: "duuuh BT susahnya mereka jawab iya atau tidak.. cobaan ramadhan nih..sabar sabar.." ujarnya menghibur diri. Pantas lah teman saya ini bergundah gulana ria. Bagaimana tidak, orang yang diminta konfirmasi lewat sms dan fesbuknya itu tidak menunjukan respon sedikit pun. Padahal ada tanda-tanda kehidupan di status fesbuknya yang update teruuus.. onlen terus kaya saykoji.. wow, what a wonderful people.

Yeaach, kurang lebih status jiwa teman-teman seperjuangan sama lah. Ada dongkolnya. Dan alhamdulillah sudah terbiasa alias tahan banting. Tapi ada momen mana kala jantung saya bisa berdentang kencang bak lonceng tukang es krim, atau perut mules mual, kadang kepala pun langsung nyut-nyutan. Biasanya kondisi itu terjadi satu hari menjelang dan pada hari H reuni dimana setiap dering Hp atau bunyi sms selalu membuat jantung dag dig dug der! Lho, ko sampe segitu nya mas? Ya iya ndro, coba bayangken, tidak sedikit mereka yang batal hadir dengan berbagai alasannya. Apalagi tempat sudah reserve duluan. Tapi yang paling penting, kasihan teman-teman yang rela datang dari jauh bila pesertanya sedikit. 

Ada teman yang masih bisa cekikikan di inbox satu hari sebelum hari H. alasan absen memang masuk akal dan tak terduga. Akhirnya saya terima cekikikannya itu dengan lapang sambil menahan ribuan gundah di dada. Ada juga yang batal hadir cuma gara-gara sohibnya ngga jadi ikut. Ya ampyuuun… tega nian kalian inih..

Kemudian bila ada istilah gunung kudaki, lautan kuseberangi, itu memang betul. Tapi lautnya bo’ong tuh wkwk. cobalah tengok foto yang sempat saya ambil di bawah ini. ini merupakan akses jalan menuju sebuah rumah teman yang sudah lost contac dengan yang lainnya, di kawasan bukit raya ciumbuleuit. selain jalannya yang offroad dan jauh ke kota, suasana jalan yang dilalui benar-benar sunyi senyap, kalau istilah kerennya sih leuweung pisan hehe...

Penduduk di sana sudah biasa menuruni jalan setapak itu dengan motor. Tapi karena saya ngga berani, akhirnya motor disimpan. Yaah lumayan asik juga, itung-itung jalan-jalan sambil bersenandung : kiri kanan ku lihat saja, jauh pisan imahna aaaa.. :p Selain itu, alamatnya sudah ngga matching, karena faktor pemekaran wilayah. Untungnyaaah.. teman yang saya cari ini ternyata cukup populer di daerahnya. Ya, beliau adalah bapa RT setempat. yesss!! But singkat cerita, beliau pun turut membatalkan kedatangannya di hari H melalui SMS yang malu-malu. Ini hanya salah satu saja diantara teman-teman yang juga gagal hadir setelah saya todong ke rumahnya. That’s okey.. saya ikhlas. At least saya sudah duluan silaturahmi, terus punya data dan no hp yang bisa dishare buat teman-teman lain yang kangen sama mereka. Fiuuh…

Nah, jadi mahal yang sesungguhnya bukan dalam arti biaya telekomunikasi dan bensin saja, kan?

Jadi kenapa konfirmasi itu harus mahal?
Berikut ini adalah faktor atau alasan dari mereka yang enggan memberikan konfirmasi, baik yang telah disampaikan lewat telpon, sms, atau interview langsung :P
  1. saya pengen datang, tapi ngga mau konfirmasi dulu karena takut ada halangan. Takut dibilang omdo, dsb. Karena ngomong tentatif pun takutnya malah ga jadi katanya. Hmm ada benernya juga yah :p
  2. saya pengeeen banget hadir, tapi boke pisan uy. Lebih baik diem deh. Hmm.. kalo soal duit emang sensitif..
  3. menunggu respon yang lainnya, kalo si ini ato si itu ikut, gw juga ikut. Konfirmasi belakangan. Kalo ngga, ya absen juga. Beuuh, hare gene masih geng gengan.. :D
  4. dan ada juga yang minder karena status pekerjaannya. Ow, come on …
analisis lainnya dari saya sendiri :
  1. ngga penting lah reuni, gw banyak kerjaan nih. Jauh pula. Minimal confirm donk mas.. gampang toh..
  2. ah, saya mah ga pada kenal, ngapain jg ketemuan. So ngga harus confirm lah. Justru dengan silaturahmi nantinya kenal dong ah..
dan pastinya banyak faktor-faktor lain yang menyebabkan, KENAPA ORANG-ORANG lebih memilih jd emas, diam seribu bahasa.

Solusi untuk masalah konfirmasi?
Yang jelas sebagai kordinator harus ihlas dan jangan bosan untuk menjalankan tugasnya, at least sampai si prospek bisa memberikan konfirmasi. Kemudian, solusi lain yang ada dalam kepala saya adalah, diperlukan peran donatur untuk meng-handle atau meminimalisir biaya reuni. Setiap biaya acara reuni dibikin terjangkau atau mungkin gratis, saya optimis antusiasme peserta untuk sekedar confirm iya atau tidak (saja) bisa nampak nyata :D. satu lagi yang terpenting. kredibilitas ketua reuni dan panitia pun bisa menentukan antusias peserta. So, jangan anggap remeh hal ini.

Benang-benang putus itu tersambung kembali.
Alhamdulillah, terlepas dari unek-unek di atas, di bulan suci kali ini, setelah belasan tahun, benang-benang putus itu telah tersambung kembali, tentu berkat ijinNya dan semangat 45 dari teman-teman yang sangat menjungjung tinggi nilai silaturahmi. walau kehadiran peserta dari dua reuni (buber) yang digelar rata-rata hanya di bawah 50%, tapi setidaknya pintu kebersamaan telah kembali terbuka.

Ladies and gentleman.. Ini lah motif saya sesungguhnya menjadi seksi sibuk penyelenggaraan reuni. Bukan berharap pujian ketika reunianya sukses. Sucks!! Kepuasan terletak pada kepuasan batin dimana pada akhirnya saya bisa merasakan dan menyaksikan momen indah kebersamaan yang sudah lama hilang. Turut merasakan emosi jiwa, saat menyaksikan reaksi pertama mereka bertemu setelah lama terpisah, saat menyaksikan mereka berangkulan (ow, so shiiit..), menyaksikan mereka bercerita tentang masa-masa “gila” sambil tertawa lepas, hingga mereka melupakan segala kepenatan hidup yang selalu membayangi.. dan saya benar-benar bahagia untuk itu. And I just wanna be a witnes of those great moments. Rela walau lelah!

So, ngga kapok nih jadi seksi sebuk? Selama masih diberikan waktu, kesehatan dan kepercayaan, insyaAllah… LANJUTKAN!! Next mission : reuni SD dan SMP, mudah2an terlaksana amiiin…

0 komentar: